Kembali ke Blog

Review Film: Tinggal Meninggal (2025), Bukan Film Horor tapi Nontonnya Deg-Degan!

15 Agustus 2025
Film Psikologi
Putri Aisya Pahlawani, M.Psi., Psikolog

Ketika trailer film ini lewat di Instagram aku di sekitar bulan Juli, aku langsung jatuh cinta banget. Merasa judulnya unik, alur ceritanya juga nampaknya menarik. Di hari pertama film itu tayang, aku langsung nonton setelah pulang kerja. Seperti yang aku tulis di judul, film ini bukan film horor, tapi sepanjang nonton, rasa deg-degannya dibuat makin intens! Dan...ada banyak hal yang bisa dibahas dari film ini, dari kacamata ilmu psikologi!

(SPOILER ALERT!)

sumber : Instagram.com/tingning.official

Nilai yang ditanamkan oleh keluarga

Di awal, di ceritakan bahwa Gema ini adalah anak dari pasangan suami istri, dimana papanya Gema adalah seorang 'inspirator' investasi namun bodong alias bohong. Gema melihat bahwa papanya menipu banyak orang untuk bisa menginvestasikan uang mereka yang begitu banyak. Yang lebih gong lagi adalah, ayahnya mengatakan bahwa itu semua dilakukan demi Gema! Menariknya, Gema kecil menunjukkan semacam 'pemikiran kritis yang empati' seperti "kira-kira anak dari keluarga mereka butuh uang juga enggak ya?" seakan-akan berpikir bahwa apa yang dilakukan papanya ini, apa nggak apa-apa untuk keluarga mereka?

Lalu ketika si mama meminta Gema untuk memanggilnya dengan "kak", untuk kebutuhan asmaranya. Tentu ini juga salah satu kebohongan lain yang terjadi di keluarga ini. setelah si papa menjadi buronan, papanya mengganti identitas di KTP bahkan wajahnya, bahkan berbohong mengatakan kalau tinggal di kampung (padahal sebenarnya di Jakarta Timur), yang didukung oleh si mama yang bilang di hari pemakaman "sengaja nggak kasih tahu biar kamu nggak keceplosan saat ditanya polisi" dan jawaban "lupa" si mama yang jelas bohong banget. 

Kemudian sepanjang film diperlihatkan bahwa Gema menggunakan jalur "bohong" untuk mendapatkan perhatian teman-temannya. Gema di akhir cerita juga mengganti identitas dan menyamar. Polanya agak mirip ya? meskipun tujuannya berbeda, namun nilai ini yang tertanam dalam benak Gema.

Ingat, seorang anak itu pertama kali belajar banyak hal dari lingkungan paling dekatnya, yaitu keluarga. Dari sinilah biasanya nilai-nilai hidup mulai terbentuk. Kadang kita mikirnya nilai itu diajarkan secara langsung kayak diajarin, “jangan bohong ya,” atau “harus jujur.” Tapi kenyataannya, anak justru lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan cuma dari apa yang mereka dengar.

Kalau orang tua atau keluarganya terbiasa berbohong, bahkan untuk hal kecil sekalipun, anak bisa aja menangkap itu sebagai sesuatu yang “biasa” atau bahkan “benar.” Buat anak, itu jadi pelajaran diam-diam: ternyata bohong itu boleh dalam situasi tertentu.

Ini nyambung sama teori ekologi Bronfenbrenner, yang bilang kalau perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lingkungan, dimulai dari yang paling dekat, microsystem, yaitu keluarga. Jadi, apa yang anak lihat dan alami di rumah, sering banget terbawa sampai dia besar, bahkan tanpa sadar!

Pentingnya orang tua hadir secara utuh untuk anak 

Sejak kecil, Gema kesepian. Dia hanya punya kartun kesukaannya ninja cat (dan si embak) untuk menemaninya. Si bapak sibuk 'latihan' untuk bisa improvisasi, sementara si mama sibuk arisan. Checklist sederhana milik Gema, mungkin jadi checklist yang bisa terwujud hanya dalam satu bulan untuk anak lain dari keluarga yang harmonis. Sementara Gema? Bahkan untuk bisa makan London Fried Chicken bareng mama (saja) baru bisa dilakukan saat Gema dewasa!

Buat anak kecil, kehadiran orang tua itu bukan cuma soal fisik, tapi juga tentang kehadiran yang utuh secara emosional dan psikologis. Anak-anak itu belum bisa memahami kondisi orang dewasa. Mereka cuma tahu: “Kalau aku cerita, didengar nggak?” atau “Kalau aku sedih, ada yang peduli nggak?” Ketika respons yang mereka terima dingin, nggak konsisten, atau nggak empatik, anak bisa tumbuh dengan perasaan tidak aman dan itu berdampak panjang.

Si anak belum bisa memahami apa gunanya si papa berlatih keras improvisasi (meski dia diberi pemahaman kalau itu semua dilakukan papa demi Gema), juga nggak tahu apa pentingnya arisan untuk berjejaring sosial yang dilakukan si mama. Kehadiran yang utuh ini penting banget untuk membentuk attachment yang sehat. Anak yang merasa dicintai, didengar, dan diterima tanpa syarat cenderung tumbuh jadi pribadi yang percaya diri, stabil secara emosional, dan mampu membangun hubungan yang sehat juga di masa depan. 

Sebaliknya, kalau dari kecil merasa harus “berjuang” untuk diperhatikan atau dicintai, mereka bisa tumbuh dengan gaya keterikatan yang cemas, takut ditolak, atau bahkan menarik diri yang merupakan anxious attachment dalam ilmu psikologi. Anak yang tumbuh dengan gaya kelekatan yang cemas, seperti Gema, akan merasa bahwa kedekatan emosional itu sesuatu yang nggak konsisten, sehingga dia perlu terus berjuang untuk mendapatkan perhatian atau kasih sayang. Ini akan membentuk pola relasi yang tidak sehat hingga dewasa! Ketidakkonsistenan ditunjukkan di film ini: ketika si papa hanya memeluk dan menggendong Gema penuh kasih di panggung, namun ketika di rumah malah cuek. Kehadiran dan perhatian kak mama (hahaha) hanya ketika di "tanggal tua", juga perhatian temannya yang mulai menurun ketika keberdukaan Gema sudah berlalu.

Stages of Grief

Benar kata Pak Cokro, keberdukaan itu ada tahapannya. Ada lima tahapan keberdukaan menurut Elisabeth Kübler-Ross, yaitu denial, marah, bargaining, depression, dan penerimaan. Tapi nggak semua orang mengalami kelima tahap ini, dan urutannya pun bisa acak. Proses berduka itu nggak linear dan sangat personal, sehingga seseorang bisa stuck di satu tahap cukup lama. Tapi kalau dilihat dari film ini, Gema terlihat biasa aja, karena "aneh, deket aja enggak?" jawabnya ketika ditanya oleh mama apakah dia sedih melihat papanya meninggal. Tapi si mama juga "aku si enggak". Benar-benar keluarga yang TIDAK hangat.

Gema bukan hanya sendirian, tapi kesepian

Sendirian itu kondisi fisik, dimana nggak ada orang lain di sekitar kita. Tapi kalau kesepian itu kondisi emosional, dimana dia merasa nggak terhubung, meskipun ada orang lain di sekitar. Dan itulah yang dialami Gema. Di awal film, Gema gak hanya terlihat sendirian, tapi juga nggak merasakan kehangatan dengan keluarga maupun dengan teman-temannya.

Kalau kamu lihat checklist dan yang dibutuhkan Gema di sepanjang film, dia nggak hanya ingin punya teman alias nggak sendirian, tapi juga ingin ada koneksi, kebersamaan. Dia bahkan langsung merasa sedih ketika temannya nggak "seru" kayak di hari-hari awal Gema berduka, bahkan ketika ditinggal rapat ke ruangan lain. Jadi, meskipun temannya masih ada di satu area yang sama, yang dibutuhkan Gema lebih dari itu. 

Gema membawa luka dari masa kecil, yang tumbuh tanpa kehangatan keluarga, terbiasa memendam, terbiasa menyendiri. Ada kerinduan untuk dimengerti, tapi dia nggak tahu caranya meminta. 

Penyesalan ibu

Ketika film mulai hepi ending, dengan scene Gema makan bareng si mama di London Fried Chicken, nonton bioskop bersama, rasanya bikin keadaan jadi hangat. Apalagi mengingat apa yang sudah dilakukan oleh mamanya di awal hingga pertengahan film. Sibuk arisan saat Gema butuh teman, nggak mengakui bahwa Gema anaknya di depan kekasih brondongnya, hingga minta uang tiap bulan ke Gema. Bahkan sempat playing victim ke Gema dengan mengatakan "hidup mama susah, setelah cerai" (lah emangnya Gema enggak?)

Di ending cerita, ada scene Gema ketabrak truk pas mau jalan sama mamanya. Beda dengan ketika Gema pura-pura meninggal, ketika Gema "meninggal beneran", si mama menangis sendiri di atas peti mati. 

Kadang penyesalan datang terlambat. Seorang ibu yang dulu pernah meninggalkan anaknya mungkin punya alasan, entah karena kondisi mental, tekanan hidup, atau ketidakmampuan saat itu. Tapi ketika waktu berlalu dan anak itu benar-benar “hilang” (entah karena meninggal, menjauh, atau putus hubungan), barulah semua luka dan keputusan masa lalu terasa begitu berat. Kalau si mama dijadikan POV, mungkin ini yang dirasakan olehnya. 

Sering bohong, bikin susah dipercaya lagi

Gema pura-pura meninggal. Teman-temannya sempat sedih, tapi ketika tahu itu bohong, jelas rasa percaya mereka runtuh. Karena gimana mau percaya lagi, kalau hal sebesar “kematian” aja dijadikan kebohongan? 

Dan yang miris adalah, waktu dia beneran meninggal, nggak ada yang percaya. Meski kursi berjejer untuk tamu, namun banyak yang nggak hadir, termasuk teman kantor Gema. Ini semacam tamparan keras bahwa ketika seseorang sudah kehilangan kepercayaan dari orang lain, bahkan saat berkata jujur pun, kata-katanya nggak lagi dianggap serius. karena bohong itu bukan perkara "sekali", tapi karena itu bisa mengubah cara pandang orang lain terhadap kita.

Yang menarik, meski semua itu terjadi, mereka masih kelihatan "akrab" di kantor. Mungkin secara sosial mereka tetap tersenyum, bercanda, atau ngobrol bareng. Tapi keakraban di permukaan nggak selalu mencerminkan hubungan yang benar-benar utuh di dalam. Mereka mungkin tetap berteman, tapi dengan jarak emosional. Bisa jadi karena mereka profesional, atau karena belum siap benar-benar menjauh.

White noise TV dan segenap bantal di kasur

sumber : Instagram.com/tingning.official

Menarik nggak sih, kenapa Gema selalu tidur dengan TV menyala dan banyak banget bantal yang ditata sedemikian rupa mengelilinginya? TV yang menyala bisa menciptakan illusion of presence, dimana seolah ada suara orang lain, tidak sunyi, tidak sendiri. Meskipun normal untuk beberapa orang, namun ini juga digunakan untuk menenangkan pikiran yang overaktif. Sementara bantal-bantal menempel itu merupakan bentuk self-soothing untuk meniru kehangatan fisik yang hilang, seperti misalnya pelukan ibu/ayah. Deep banget, ya?

Ending review, beberapa tambahannya adalah: Gema sendiri cukup canggung dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini bisa dialami oleh siapa saja, seperti anak yang mengalami trauma, anak yang belum memiliki skill dalam berinteraksi, anak neodivergent seperti ADHD dan ASD. Ini bisa dibantu dengan terapi juga!

Dan kurasa dia sebenarnya bukan jahat, ya. Tapi kebutuhan akan perhatian (dalam arti baik), yang membuatnya "harus berbohong". Kayaknya agak beda dengan si Danu "photoshop" hehehe.

So far, puas banget nonton “Tinggal Meninggal”. I'm in love banget sama karakter Kerin yang lembut, positive vibes, dan melek kesehatan mental!

Bagikan Artikel

Sebarkan pesan hangat ini kepada orang yang membutuhkan.