Kembali ke Blog

Journaling, Metode Buang Sampah Batin yang Lebih Dahsyat daripada Nulis Diary!

18 Juni 2025
Tips Psikologi
Putri Aisya Pahlawani, M.Psi., Psikolog

"Dear diary, tadi aku ketemu gebetan. Lalu setelah itu aku pergi ke UKS, lalu dan bla bla bla..."

Siapa yang hari gini masih nulis diary? Gak perlu malu untuk mengakuinya, soalnya aku juga! Hehehe. Nulis diary mungkin dianggap kayak kegiatan anak remaja yang lagi cinta-cintaan. Awal aku nulis diary sejak SD dan berlangsung sampai saat kuliah. Awalnya si aku kira hanya untuk mencatat kegiatan hari itu aja. Ternyata manfaatnya aku rasain hingga kini!

Journaling. Bukan nulis jurnal ilmiah, kok.

Nulis diary, bahasa kerennya sekarang adalah journalingJournaling kini gak hanya dijadikan tempat pengingat tentang apa yang terjadi di hari itu. Journaling tidak lagi hanya memfasilitasi pertanyaan "apa kegiatan hari itu?" seperti ketika menulis diary. Journaling juga dijadikan sarana untuk merekam apa yang kamu rasakan di hari itu? Bagaimana perasaanmu? 

Mungkin saat nulis diary, kamu sudah nulis perasaanmu kayak "ih tadi kesel banget ketemu si A" atau "aku malu banget tadi waktu di deketin sama si B!" Thats good. 

Tapi kalau journaling, ada tambahannya nih. Selain menulis apa yang terjadi dan bagaimana perasaanmu, journaling bisa digunakan untuk melakukan evaluasi diri, mengenai apa yang sudah benar kamu lakukan dan yang belum atau mungkin keliru. Bisa jadi sarana refleksi diri. Lebih memahami tentang dirimu sendiri.

Cara nulisnya gimana?

sumber: unsplash.com/honza_kahanek

Banyak yang ragu untuk melakukan journaling, karena merasa bingung harus menulis apa, merasa gak bisa merangkai kata, merasa ada tuntutan bahwa tulisannya harus indah, nggak bisa konsisten menulis, sekaligus merasa bahwa nggak akan ada manfaatnya.

Pertama, tentang 'alat tempur' yang kamu gunakan. Sebenarnya boleh-boleh aja ketik di hp, tab, atau laptop. Apalagi sekarang yang sering kita bawa memang benda-benda itu, kan? Lagipula, memang akan lebih praktis jika apa yang ada, terlintas dalam benak kita, langsung buka hp, ketik-ketik disana. Sebenarnya sah-sah aja, sih. Tapi di beberapa jurnal yang membahas tentang journaling, lebih menyarankan untuk menggunakan buku tulis atau notes dan bolpoin. Why? karena menulis akan membuat otak lebih memahami dan memproses emosi yang kompleks. Selain itu, kecepatan yang lebih pelan ketika menulis, akan memberikan waktu pada otak untuk 'merasakan' isi tulisan. Jadi menulis tidak hanya sekedar menuliskan deretan kata, tapi juga merasakannya emosi di balik kata.

Kamu bisa nulis apa aja yang terlintas dalam pikiranmu. Kadang terlalu banyak yang kita pikirkan, jadi bingung mau nulis apa. Tulis saja yang pertama kali terlintas dalam pikiran dan benakmu.

Gak usah peduli dengan tatanan bahasa dan estetika. Dikombinasikan dengan gambar atau simbol simbol tertentu juga fine. Toh yang baca adalah kamu sendiri. Terutama untuk yang barusan banget journaling, gak apa apa misal gak nyambung. Awalnya bahas A, kemudian bahas B, terus balik bahas A lagi. Gak apa apa. Mau pakai bahasa Indonesia campur bahasa Jawa, bahasa Inggris, bahasa Thailand juga silakan aja. Bahasa kekinian, singkatan gaul juga boleeee~

Gimana kalau ketika nulis sesuatu, ternyata tiba-tiba aku merasa ada keraguan, takut, cemas untuk menyelami pikiran dan perasaanku lebih dalam? nah, justru itu titik dimana kamu akhirnya 'sampai' di pintu masuk pikiran dan perasaan terdalammu, yang mungkin selama ini kamu pendam. Kamu mungkin akan terdiam, bingung untuk meneruskan atau sudahan aja.

Kalau kamu masih perlu waktu, kamu bisa berhenti dulu. Tapi, kamu masih ada "hutang" untuk menggali pikiran dan perasaan tersebut. Kamu bisa 'kembali lagi', dan melanjutkannya. Kalau diterabas aja gimana? Boleh banget. Sah-sah aja kamu nulis sambil bercucuran air mata, atau dengan amarah yang tiba-tiba muncul. 

Dari sana, kamu bisa tahu. Kalau permasalahan itu belum selesai, emosi kamu belum netral, kamu jadi ngerti apa yang sebenarnya kamu takutkan, kamu khawatirkan, pemikiran yang selama ini menghantui. Setelah kamu tulis, kamu bisa membaca ulang. Kamu mungkin akan mengatakan, "Oh, ini kah yang selama ini mengganggu pikiranku? ini kah yang aku khawatirkan tanpa aku sadari?"

Manfaat journaling

sumber: unsplash.com/contentpixie

Terkadang kita akan melakukan sesuatu kalau bermanfaat. Susah susah brainstorming nulis, eh ternyata gak ada manfaatnya. Tenang aja, journaling ini ada manfaatnya kok. 

Ibaratnya, otak kita ini seperti gelas dengan kapasitas tertentu untuk menampung semua hal, baik yang positif maupun negatif. Kalau otak kita lebih banyak menampung emosi negatif, maka otak kita akan berkurang kapasitasnya untuk melakukan hal-hal yang krusial seperti fokus, berkonsentrasi, juga berpikir logis.

Journaling itu seperti 'memindahkan' air berisi emosi negatif yang ada di kepalamu, ke dalam 'wadah lain'. Seakan-akan kita memisahkan diri dari pengalaman dan emosi tersebut. Sehingga kamu bisa 'melihatnya' dari luar wadah tersebut. Kamu bisa melihat "wujud" emosi negatif tersebut. Hal ini akan membuat kamu bisa melihatnya dengan POV netral atau pikiran yang jernih (clearer mind). Selain itu, ada manfaat lainnya juga!

  1. Bantu kita terkoneksi dengan inner world/diri kita, terutama jika kita tidak yakin dengan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan
  2. Mengurangi cemas, stres, dan depresi. Journaling menjadi salah satu metode intervensi di dunia psikologi untuk mengurangi intensitas ketiganya
  3. Melatih kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Selain untuk terapi, ini juga dijadikan salah satu metode dalam pendidikan, lho.

What happen in our brain during journaling?

Fakta menariknya, journaling itu akan membuat kita dapat menyelesaikan masalah dengan efektif. Ada hal yang terjadi pada otak kita saat journaling. Ketika kita menuliskan permasalahan, maka otak yang teraktivasi adalah otak kiri. Otak kiri ini adalah bagian berpikir logis dan analitis, sangat berguna untuk problem solving. Nah, sementara otak kiri sedang 'berkonsentrasi', maka otak kanan punya 'kebebasan' untuk berkreasi dan juga merasakan apa yang dirasakan oleh otak dan tubuh ini. Perpaduan yang pas untuk memahami permasalahan, dan mungkin, kita akan menemukan solusi-solusi kreatif yang baru, yang selama ini nggak terpikirkan.

Sekarang orang orang lebih banyak yang "curhat" di media sosial. Ada yang journaling di media sosial. Gimana tuh?

Sumber: unsplash.com/nate_dumlao

Sebenernya enggak apa-apa, sih. Tapi namanya dunia maya, sebenernya hampir mirip dengan dunia nyata. Ada orang lain yang bisa berkomentar, memberikan opininya. Ruang maya yang kesannya milikmu pribadi hanya karena terlihat "sepi", tapi ternyata kalau kamu bikin postingan yang sedikit sensitif, bisa mendadak ramai tuh.

Ruang maya juga punya aturan dan etika yang tetap kita jaga. Bisa anonim, bukan berarti terus kita posting seenaknya jidat dengan kata-kata kasar hingga mengganggu orang lain. Mungkin jadi agak bergeser ya. Journaling yang diharapkan bisa jadi sarana bebas tanpa sensor, tapi karena platform nya di sosial media, jadi harus ada penyesuaian sedikit. Mungkin dari bahasanya atau kontennya. Kalau journaling untuk pribadi sih, kamu boleh aja tuh menuangkan amarahmu. tanpa sensor. Dan mungkin, namanya bukan journaling.

Tapi benefitnya di sosial media, kamu mungkin bisa berbagi pengalaman dan insight kepada orang lain, yang mungkin mengalami kejadian serupa. Jadi, ceritamu bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi, silakan pilih tujuanmu. Kalau kamu ingin menjadikan ini sebagai 'terapi', akan lebih pas jika kamu menulis di dalam buku secara privat, dimana yang boleh akses hanya dirimu seorang.

Buat kamu yang belum pernah coba, ayo cobain. Buat kamu yang selama ini nulisnya model kayak nulis diary, ayo kita tingkatkan levelnya! 

Kalau kamu merasa sulit untuk melakukannya, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional, ya!

Bagikan Artikel

Sebarkan pesan hangat ini kepada orang yang membutuhkan.