Kembali ke Blog

Rasa takut dan Cemas, Dia Sebenarnya Baik Kok!

8 Agustus 2025
Tips Psikologi
Putri Aisya Pahlawani, M.Psi., Psikolog

sumber: unsplash.com/challengart

"Aku takut."

Kalimat ini sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan. Banyak orang merasa seharusnya mereka nggak perlu takut, nggak perlu cemas, dan nggak boleh khawatir. Bahkan, ada yang merasa gagal ketika masih merasakan ketakutan terhadap sesuatu, lho.

Padahal, takut adalah salah satu emosi dasar yang dimiliki setiap manusia. Dari rasa takut ini, bisa muncul berbagai emosi lain seperti cemas, khawatir, gugup, atau waswas. Ketika ketakutan nggak dikelola dengan baik, pikiran bisa terus berputar mencari kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Inilah yang sering kita kenal sebagai overthinking. Hayo, siapa nih yang suka overthinking?

Faktanya, rasa takut bukanlah musuh yang harus dihilangkan. Rasa takut memiliki fungsi penting untuk membantu kita bertahan hidup. Ketika menghadapi sesuatu yang berisiko atau menantang, rasa takut membuat kita lebih waspada, lebih berhati-hati, dan lebih mempersiapkan diri. Dalam kadar yang sehat, rasa takut justru membantu kita melewati situasi dengan lebih baik. Karena itu, tujuan kita bukan menghilangkan rasa takut sepenuhnya. Yang lebih penting adalah belajar mengelola dan merespons rasa takut dengan cara yang sehat. Terutama ketika ketakutan tersebut berkaitan dengan sesuatu yang belum terjadi. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai kecemasan.

sumber: unsplash.com/joicekelly

Secara sederhana, kecemasan adalah perasaan nggak nyaman yang muncul ketika kita membayangkan kemungkinan ancaman, masalah, atau kejadian buruk di masa depan. Jika rasa takut biasanya muncul karena ada bahaya yang nyata dan sedang terjadi saat ini, kecemasan lebih sering berkaitan dengan hal-hal yang masih berupa prediksi, kemungkinan, atau kekhawatiran. Ketika ada hewan harimau di depanmu, kamu merasa takut. Namun ketika kamu sudah belajar untuk ujian namun merasa deg-degan dan merasa akan gagal, maka kamu sedang mengalami rasa cemas. 

Rasa cemas bisa bersumber dari banyak hal, seperti pengalaman masa lalu, tekanan akademik atau pekerjaan, tuntutan sosial, ketidakpastian masa depan, hingga kebiasaan berpikir yang cenderung fokus pada kemungkinan terburuk. Dalam psikologi, pikiran, perasaan, dan perilaku saling memengaruhi satu sama lain. Ketika kita terus-menerus memikirkan skenario buruk, tubuh akan merasakan kecemasan. Saat cemas meningkat, kita mungkin mulai menghindari situasi tertentu atau terus mencari kepastian. Sayangnya, perilaku itu sering kali bikin rasa cemasnya semakin kuat. Siklus ini bisa terus berulang kalau nggak kita sadari.

Karena itu, saat menghadapi rasa takut atau cemas, cobalah untuk nggak langsung memusuhi emosi tersebut. Kenali apa yang sedang kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan, dan bagaimana kamu meresponsnya. Dengan memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, kita bisa mengelola kecemasan dengan lebih efektif, alih-alih membiarkannya berubah menjadi overthinking yang berkepanjangan.

Buat kamu yang merasa sulit lepas dari overthinking, merasa tahu bahwa ini sudah sangat mengganggu tapi nggak tahu gimana cara mengelolanya, Mindwell with Putri hadir membantu!

Bagikan Artikel

Sebarkan pesan hangat ini kepada orang yang membutuhkan.